Tentang HalalSehat.tk

Pemisahan antara Makanan dan Obat

Saya memerhatikan bahwa sebagian besar dari kita masih terjerumus dalam pemahaman bahwa makanan dan obat itu adalah 2 hal yang berbeda. Ini tidak hanya terjadi di negeri kita, namun juga di belahan bumi lain. Makanan kini dianggap hanya sebagai pemasok energi / kalori belaka atau pengganjal perut yang lapar. Kebanyakan kita tidak merasa perlu lagi memerhatikan nilai gizi makanan yang kita santap. Bahkan, tidak peduli lagi apakah bahan makanana atau minuman yang kita konsumsi itu mengandung racun ataukah aman bagi kesehatan.

Tidaklah mengherankan, dengan sikap seperti itu maka kita menjadi mudah  sakit, dari yang ringan sampai yang parah atau kronis. Lalu? Dengan mudahnya kita akan mengkonsumsi obat-obatan yang begitu mudah kita beli di warung atau rombong-rombong di pinggir jalan. Yah, obat-obatan yang dijual bebas semacam itulah yang menjadi andalan masyarakat kita. Atau, untuk mereka yang mampu, sudah disediakan anggaran rutin untuk berobat ke dokter atau RS. Tak perlu pusing-pusing lagi. Makan tetap sembarangan saja, yang penting enak dan kenyang. Kalu sakit?  kan ada obat, ada jamu, ada dokter, ada mantri… ada rumah sakit.

Konsumen Ngawur, Penjual Ikut Ngawur

Dengan demikian, tidaklah salah kalau dikatakan bahwa kita ini kalau makan ‘ngawur’ (seenaknya sendiri), sehingga mendorong para pembuat dan penjual makanan ikut-ikutan ‘ngawur’. Apalagi bagi mereka yang masih suka makan di luar rumah atau suka jajan. Banyak pembuat makanan yang dalam proses pembuatan makanannya tidak memerhatikan mana bahan yang aman dan mana yang tidak aman bagi kesehatan. Barangkali ada yang sudah tahu tapi sengaja menggunakan bahan-nahan yang membahayakan kesehatan dengan alasan ekonomis dan tujuan akhir: yang penting rasanya enak dan laku dijual!

Namun, mungkin juga ada yang tidak mengerti bahwa bahan-bahan yang mereka gunakan untuk membuat makanan itu berbahaya bagi kesehatan.

Yah, namanya pembuat makanan itu tidak perlu kualifikasi kan? Siapapun bisa walaupun tidak mengerti gizi, kesehatan/sanitasi dan keamanan bahan pangan. Juga tidak perlu training khusus. Pokoknya asal enak dan laku dijual, beres!

Relakah Anda serahkan nasib kesehatan Anda dan keluarga Anda  kepada orang-orang yang seperti itu?

Halal atau Haram?

Kengawuran itu berlanjut bila menyangkut ke masalah kehalalan makanan. Demi tujuan pokonya enak dan laku maka kriteria HALAL untuk bahan makanan sudah sedemikian diabaikan, baik oleh pembeli  maupun pembuat dan penjual makanan. Fakta ini telah lama berlangsung dan tampaknya akan terus berlangsung. Banyak sekali kasus-kasus yang telah diungkapkan ke publik, seperti berikut ini:

  • Pencampuran daging dan potongan tulang babi atau celeng ke dalam daging sapi atau ayam
  • Penggunaan minyak / lemak babi ketika memasak
  • Penggunaan daging ayam mati (bangkai), yang tidak disembelih lebih dahulu  sebelum dimasak.
  • Penggunaan hewan darat bertaring dan bercakar yang diharamkan, selain babi, seperti kucing, anjing, tikus, ular,   biawak, kera, dan lain-lain sebagai bahan makanan.
  • Pencampuran darah hewan pada saat proses memasak.

Dan celakanya, ternyata masih banyak juga konsumen yang tak peduli lagi apakah makanan yang dikonsumsi itu halal ataukah haram. Tidak sedikit saudara muslim kita yang masih bersikap seperti itu. Alasannya? Yah, kita kan tidak tahu sendiri bagaimana makanan itu dibuat. Makanya kita cukup percaya saja kepada si penjual atau pembuat makanan itu. Menurut saya itu alasan yang mengentengkan belaka. Bukankah Tuhan sudah mengajarkan agar kita bersikap waspada dan berhati-hati (tawwari’un)pada situasi semacam itu? Mengapa kita tidak mau berusaha lebih keras sedikit untuk menjamin kehalalaan makanan yang kita makan?

Oleh karena itu, banyak kalangan ulama yang membuat fatwa haram atau SYUB’HAT (menimbulkan keragu-raguan halal atau haramnya) terhadap makanan yang beredar di masyarakat. Mengapa harus begitu? Bukankah masih banyak sekali pilihan yang halal? Unggas dan terutama hewan-hewan yang hidup di air tawar dan laut yang begitu berlimpah. Bahkan Tuhan sendiri menghalalkan bangkai dari binatang laut untuk kita makan.

Yang pasti, Tuhan menetapkan adanya makanan yang halal dan haram itu tentu ada maksudnya. Hanya saja Dia memberikan kesempatan kepada manusia untuk mencari tahu sendiri apa sebabnya. Kita hanya dimintaNya untuk mentaati segala aturan yang ditetapkanNya. Ada sebagian orang mengatakan bahwa babi diharamkan karena kandungan lemak jenuhnya (saturated fat) yang tinggi. Ada lagi yang mengatakan karena pada tubuh babi terdapat banyak jenis cacing tertentu yang merugikan kesehatan.

Diantara beberapa dugaan itu, ada satu titik terang yang lebih spesifik dari ilmu Diet Golongna Darah yang tergolong baru. Ilmu ini mengategorikan makanan menjadi 3 untuk setiap golongan darah, yaitu:

  • golongan makanan yang bermanfaat sebagaimana obat kalau kita makan,
  • golongan makanan yang netral, dan
  • golongan makanan yang merugikan  sebagaimana racun kalau kita makan

Yang menarik, daging dan lemak babi ternyata masuk ketagori makanan yang merugikan (seperti racun) bagi kesehatan semua golongan darah: O, A, B, dan AB. Protein lectin yang ada dalam daging babi dapat menimbulkan beberapa masalah  kesehatant yang serius untuk masing-masing golongan  darah.

Makanan Harus Kembali ke Fitrahnya

Dahulu, mulai dari manusia-manusia awal penghuni bumi, manusia hanya mengenal makanan sebagai pemasok energi dan sekaligus sebagai obat untuk menyembuhkan diri dari penyakit. Manusia terus belajar mengenali mana makanan yang bermanfaat untuk kesehatan dan mana yang tidak. Tidak ada obat-obatan sintetis kimiawi, tidak ada bisnis farmasi; semuamya berjalan secara alami. Dan mereka baik-baik saja. Umur mereka lebih panjang, fisik mereka lebih besar dan kuat, otak pun tak kalah jenius  (berdasarkan kisah-kisah dalam kiatab suci Al-Quran dan yang lain).

Semestinya kita juga harus melestarikan gaya hidup alamiah itu. Kesehatan kita dimulai dari apa saja yang kita makan dan minum. Kita harus lebih memerhatikan apa-apa yang baik untuk kita makan dan apa-apa yang tidak baik. Juga bagaimana cara memasaknya untuk menjaga kualitas gizinya.

Suatu fakta bahwa manusia moderen sekarang sedang menderita kelaparan. Bukan kelaparan karena kurang kalori, tetapi kelaparan (kekurangan) gizi.

Terbukti dari makin banyaknya penyakit karena ketidakseimbangan gizi yang dikonsumsi atau karena kualitas gizinya yang sudah banyak berkurang karena proses pembuatannya. Gaya hdup moderen yang serba instan, restoran-restoran fast food memiliki andil pada meningkatnya insiden penyakit gangguan metabolisme, seperti diabetes dan infeksi hati, dan gangguan kardiovaskuler (jantung dan peredaran darah), dan penyakit-penyakit moderen lainnya (yang zaman nenek moyang dulu tidak dikenal).

Seyogyanya lembaga kedokteran dan rumah sakit diperlukan untuk menangani langkah-langkah darurat (emergency) yang dialami masyarakat.

Anda akan menjumpai artikel-artikel informatif dan bermanfaat, yang membahas issue-issue  di atas, di dalam blog ini.

Ikuti Nasihat Hippocrates

Benarlah kata-kata Hippocrates, filsuf dan dokter Yunani kuno, sang peletak fondasi ilmu  kedokteran moderen, yang sumpahnya bagi kesehatan umat manusia dijadikan sumpah para dokter sebelum resmi bertugas, sebagai berikut :

“Jadikanlah makananmu sebagai obatmu dan jadikanlah obatmu sebagai makananmu” dan “Jadikanlah tubuhmu sebagai doktermu yang terbaik”.

Harapan penulis,  Blog ini bisa memberikan pencerahan dalam masyarakat yang terjebak dalam kebingungan informasi tentang kesehatan, serta memberikan manfaat yang benar-benar nyata kepada Anda sekalian.

Tetaplah menjalani kehidupan yang sehat alami. Salam sehat selalu !

Powered by WordPress | Visit iCellPhoneDeals.com for Free Cell Phone Deals. | Thanks to BestInCellPhones.com, MMORPGs and Fat burning furnace