Sekitar seminggu yang lalu, anak lak-laki kawan saya di Kepanjen (Kabupaten Malang) meninggal dunia dalam usia yang masih muda, 25 tahun, yang disebabkan oleh gagal ginjal yang telah dideritanya selama satu tahun. Setelah selama satu tahun menjalani cuci darah (dialysis), kondisi kesehatannya tak tertolong lagi.
Jelaslah di sini bahwa penyakit yang fatal seperti gagal ginjal dan stroke pun kini tak segan-segan menyerang orang-orang dengan usia yang masih muda, bahkan anak-anak sekalipun. Jadi, mentang-mentang masih muda, janganlah membiasakan diri menemppuh gaya hidup, terutama soal makan-minum, yang sembarangan atau sembrono (ceroboh). Lebih parah lagi bila diiringi dengan merokok dan/atau minuman keras; sakit apa lagi yang mau dicari?
Demikianlah, sesuai dengan informasi dari ayah almarhum (ya teman saya), almarhum semasa hidupnya sebagai pelajar dan mahasiswa, memang gemar dan terbiasa minum minuman berenergi instan (kemasan); jadi, sebelum kuliah atau belajar maka tak lupa dia minum minuman penyegar berenergi itu supaya bisa ‘jooss‘ dalam menempuh kegiatan sehari-harinya. Tambahan lagi, dia juga suka makan mie instan; mungkin karena praktis dan cukup bisa mengenyangkan. Belum lagi makanan jajanan seperti bakso, cilok, siomay yangmemang banyak beredar bebas di daerah Malang. Dugaan saya, dia mungkin jarang minum (air putih) atau minumnya sedikit saja. Maaf, mungkin ‘takut’ kalau ‘kebelet pipis’ di perjalanan. Yah, hal-hal seperti itu juga pernah saya alami karena saya pun pernah terkena batu ginjal dua kali.
Mari kita cermati. Minuman berenergi yang dijual bebas di pasaran, merek apapun, dipastiakan banyak mengandung bermacam-macam bahan tambah makanan sintetis (artificial food additives) seperti, pemanis buatan, pewarna buatan, penambah rasa/aroma buatan, pengawet buatan, dan sebagainya. Sedangkan mie instan, apapun mereknya, dipastikan banyak mengandung micin atau vetsin (free MSG) pewarna makanan sintetis, bahan pengwet buatan, dan sebagainya yang sintetis.
Lha itu semua kan sudah ada izin dari Depkes atau BPOM? Lho, takarannya kan masih dalam batas aman/yang diizinkan? Ya, mungkin benar. Yang terutama menjadi masalah adalah: zat-zat (food additives) yang tidak alami itu dikonsumsi dalam jumlah yang berlebihan (sering, setiap hari, selama bertahun-tahun) dan tak terkontrol! Tak mengherankan bila banyak sekali terjadi penyakit kronis, cacat lahir, keracunan makanan yang akhir-akhir ini kembali merebak.
Yah, akhirnya kembali kepada kita semua sebagai konsumen produk-produk instan semacam itu, yang kini semakin bebas beredar di pasaran (ditambah lagi denga regulasi pasar bebas sekarang ini). Terlebih dengan kian gencarnya teknik/strategi pemasaran dari para produsennya, baik melalui TV, radio maupun berbaga media cetak yang ada. Apakah kita masa bodoh saja dan ikut arus, atau kah kita mau menertibkan atau mendisiplinkan diri kita, dan keluarga kita, untuk menempuh cara hidup / gaya hidup yang sehat, mumpung kita masih muda usia?
Sebagai misal, apa yang saya perhatikan sendiri. Tetangga saya yang dokter saya lihat sering kali membeli/jajan makanan cepat saji melalui delivery service atau yang dijual lewat gerobag dorong seperti bakso, siomay dan lain-lain (apa lagi anaknya juga diajak makan). Teman saya yang seangkatan, juga seorang dokter di Kediri telah meninggal 2 tahun yang lalu karena kanker ginjal. Baru saja seminggu yang lalu, teman perempuan saya yang juga seorang dokter (yang sedang mengambil spesialis), keluar dari rumah sakit setelah menjalani perawatan beberapa hari karena menderita stroke ringan. Ini saja contoh kasus teman-teman yang profesinya sebgai dokter, yang mestinya paham betul seluk-beluk dunia kesehatan dan cara hidup sehat. Apa lagi kita-kita yang bukan dokter…. Intinya, siapa pun kita seyogyanya menempuh gaya hidup yang sehat dan menyehatkan.
Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.
Hidup akan semakin indah bila Anda nikmati dalam keadaan sehat wal-afiat, bukan?
No related posts.
RSS Feed
Twitter
Posted in
Tags:
buy@generic.LEVITRA” rel=”nofollow”>……
Need cheap generic LEVITRA?…